Yes or No ???
Rasanya udah lama banget aku gak nulis di Blog. Awalnya ku rasa aku bakal nggak ngejamah blog lagi, tapi ternyata aku gak bisa menahannya. Biasanya di blog ini aku menulis apa saja yang khususnya gak bisa lama2 aku simpen di hati sendirian. Ya sperti sekarang ini aku lagi bingung menjawab pertanyaan ini ;
“Yes Or No ???”
3 huruf yang mudah untuk di tulis dan di ucapkan tapi sulit untuk aku jawab. Mungkin kurasa banyak sekali yang aku pertimbangkan akibat jawaban ku itu.
Berhari-hari aku merenung untuk menjawab pertanyaan itu. Hingga aku di buat seperti orang linglung. Setiap hari tiada hari tanpa merenung, disela2 waktu kerja,di rumah, membant Bunda, di jalan…. huuuuff
Namun apapun jawabannya, aku harap apapun yang terjadi adalah yang terbaik buat aku. Aku sudah pasrah, tapi kata “pasrah” ku itu akan aku ucapkan setelah ITB= Ikhtiar, Tawakal, Bersedekah. Karena aku tak mau hanya jalan di tempat tanpa mampu melangkahkan kaki untuk berlari mengejar apa yang aku ingin.
So, apapun yang terjadi sudah ku putuskan untuk memilih “Yes”
I want tobe a Super Girl. Be my self tobe best of the best!!
And Allah give me Power full to face everything, Amien…
Thank you Allah, Lo♥e U
Mr “N”
I don’t know who your real name?
Only inicial “Nang” which i know. But, your name makes me can’t forget it.
Please, don’t you ask me “Why?” coz I don’t know Why this can happen! Really
Chould i ask for you? Do you like Nasyid ?
Do you know Edcoustic wiht Nantikan aku di batas waktu and Unic wiht Hanya Tuhan yang tau?? Nasyids was representing my feelings on you
If i maybe honest, when i saw you i was afraid to look you. But, when we met for the second time. I think, i have misjudgeg you.
“I’m sorry so much for you, but i’m happy♥ !!”
Your a nice person. u make me smile dengan candamu yang polos dan jenaka.
♥Thanks of all, setidaknya engkau telah mengisi hatiku yang kosong selama ini.
Namun, I never forget Petuah yang ku buat untuk mengingatkan diri sendiri.
“Jika engkau telah siap merasakan virus “Merah♥ Jambu” dan bersedia untuk JATUH ♥, Maka engkau harus juga SIAP, RIDHO & IKHLAS melepaskannya. Mampu untuk BANGKIT kembali. INGAT!! Cinta ♥ALLAH♥ lah yang paling HAKIKI.”
TERNYATA RASA ITU BERNAMA “R.I.N.D.U”
Saat ini aku sedang menunggu…
Diantara nyanyian malam yang saling bersahutan
Dan cahaya yang silaunya membutakan langit…
Aku menunggu saat dimana hati insan perindu kedamaian ini bersatu
Saat pertemuan yang membuahkan rindu
Rindu yang takkan pernah bertepi
Meski terhapus waktu yang kan terus berjalan dan berlari…
Aku merasa sepi…
Ruangan dalam hatiku senyap dan sunyi…
Bahkan angin seperti enggan tuk berhembus
Aku merindukannya…
Menanti dalam sepi…
Aku merindukan saat ia meramaikan suasana dengan canda tawa
Sesuatu yang dulu terasa sangat biasa di harinya
Kini terasa begitu istimewa
Saat-saat bersama kini begitu berharga
Adakah semua ini akan berulang??
Malam takkan pernah menenggelamkan kita…
Ia hanya membiarkan sang bintang memecah sunyinya
Setiap diri kita adalah sosok pribadi yang unik
Bagai potongan puzzle yang harus disusun
Adanya untuk saling melengkapi…
Tiadanya untuk saling mengisi…
Setiap diri kita berbeda
Dalam warna, dalam kata, dalam rasa
Aku, kamu, dia, kita, mereka…semua tak sama
Tapi jalinan yang ada diantaranya
Bisakah menjadi SATU CINTA yang tak berkesudahan???
Jalinan yang ujung satunya VISI, ujung yang lain adalah MISI
Kan menjadi sebuah simpul yang terikat erat nan kokoh
Tak terpisahkan…
Tuk wujudkan sebuah MIMPI…!!!
Sepertinya langit masih menyimpan sejuta kisah
Yang diturunkan satu per satu bersama rintik hujan…
Agar air mata tersamar di dalamnya…
Agar tiap sudut berhiaskan rona indah pelangi sesudahnya…
Begitukah??
Semoga….
by -keisya avicenna- (teman FB)
LadyCute

Al Amanah Fil Islam (Amanah/Tanggung Jawab di dalam Islam
Al Amanah Fil Islam (Amanah/Tanggung Jawab di dalam Islam)
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh….(QS. 33: 72)
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS. 51: 56)
Wahai manusia, sembahlah Rabbmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. (QS. 2: 21)
A. MANUSIA KHIANAT (Al Kufur)
1. Seperti Hewan Ternak Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. 7: 179)
Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu). (QS. 25: 43-44)
2. Seperti Anjing Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derjat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. (QS. 7: 176)
3. Seperti Kera dan Babi Katakanlah: “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thoghut?”. Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus. (QS. 5: 60)
4. Seperti Kayu Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti. Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?Dan apabila dikatakan kepada mereka: Marilah (beriman), agar Rasulullah memintakan ampunan bagimu, mereka membuang muka mereka dan kamu lihat mereka berpaling sedang mereka menyombongkan diri. Sama saja bagi mereka, kamu mintakan ampunan atau tidak kamu mintakan ampunan bagi mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS. 63: 3-6)
5. Seperti Batu Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan. (QS. 2: 74)
6. Seperti Laba-Laba Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui. (QS. 29: 41)
7. Seperti Keledai Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. (QS. 62: 5)
B. MANUSIA AMANAH (Al Khalifah)
Ingatlah ketika Rabbmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi “. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. 2: 30)
Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah janji itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS. 24: 55)
Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka: kamu lihat mereka ruku dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda meraka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS. 48: 29)
1. Bukan Pemiliki Yang Asli (QS. 35: 13, 40: 53)
2. Menggunakannya Harus Sesuai Kehendak yang Mewakilkan (QS. 76: 30, 26: 68)
3. Tidak Menentang Peraturan (QS. 100: 6-11)
by Said Hawa (my frien in FB)
LadyCute
Renungan
Yang memiliki iman di hati
Dengarlah suara hati para lelaki
Sudahi menebar simpati
Hentikan bermanja pada kami
Kami ikhwan biasa yang tidak suci
Yang ingin teguh di jalan Ilahi.
Duhai yang kukasihi para akhwat
Yang memiliki malu, hormat dan martabat
Kami adalah pria biasa yang mudah terpikat
Iman kami tak sekuat para nabi dan shahabat
Fotomu bertebaran menggoda dan mengusik syahwat
Kecantikanmu menembus hati yang taat syariat.
Duhai akhwat yang kusanjungi
Jangan hajar emosi dan jiwa kami
dengan perhatian yang murah
Jiwa ini terasa gerah
dengan pujian yang membuncah.
Duhai akhwat yang kupuja
Engkau adalah mutiara berharga
Harapan bangsa dan agama
Bukan hanya fisik yang harus dijaga
Akhlak juga harus dihiasi
dengan lembaran hidup islami
Engkau akan terlihat anggun
Bukan karena pengagummu yang berjibun
Tapi karena sikapmu yang santun
Engkau semakin mempesona
Dengan izzahmu yang terjaga
Engkau semakin cantik memikat
Karena kepribadianmu yang sesuai syari’at
Renungkanlah duhai akhwat…
[ flowerhijab at yahoo.com/voa-isla...]
Cuplikan Novel
Pudarnya Pesona Cleopatra
Habiburrahman El Shirazy
Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, sebenarnya sejak ada dalan kandungan aku telah
dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah kukenal.” Ibunya Raihana adalah teman karib
ibu waktu nyantri di pesantren Mangkuyudan Solo dulu” kata ibu.
“Kami pernah berjanji, jika dikarunia anak berlainan jenis akan besanan untuk memperteguh
tali persaudaraan. Karena itu ibu mohon keikhlasanmu” , ucap beliau dengan nada mengiba.
Dalam pergulatan jiwa yang sulit berhari-hari, akhirnya aku pasrah. Aku menuruti keinginan
ibu. Aku tak mau mengecewakan ibu. Aku ingin menjadi mentari pagi dihatinya, meskipun
untuk itu aku harus mengorbankan diriku.
Dengan hati pahit kuserahkan semuanya bulat-bulat pada ibu. Meskipun sesungguhnya
dalam hatiku timbul kecemasan-kecemasan yang datang begitu saja dan tidak tahu alasannya.
Yang jelas aku sudah punya kriteria dan impian tersendiri untuk calon istriku. Aku tidak bisa
berbuat apa-apa berhadapan dengan air mata ibu yang amat kucintai. Saat khitbah (lamaran)
sekilas kutatap wajah Raihana, benar kata Aida adikku, ia memang baby face dan anggun.
Namun garis-garis kecantikan yang kuinginkan tak kutemukan sama sekali. Adikku, tante
Lia mengakui Raihana cantik, “cantiknya alami, bisa jadi bintang iklan Lux lho, asli ! kata
tante Lia. Tapi penilaianku lain, mungkin karena aku begitu hanyut dengan gadis-gadis Mesir
titisan Cleopatra, yang tinggi semampai, wajahnya putih jelita, dengan hidung melengkung
indah, mata bulat bening khas arab, dan bibir yang merah. Di hari-hari menjelang
pernikahanku, aku berusaha menumbuhkan bibit-bibit cintaku untuk calon istriku, tetapi
usahaku selalu sia-sia.
Aku ingin memberontak pada ibuku, tetapi wajah teduhnya meluluhkanku. Hari pernikahan
datang. Duduk dipelaminan bagai mayat hidup, hati hampa tanpa cinta, Pestapun meriah
dengan empat group rebana. Lantunan shalawat Nabipun terasa menusuk-nusuk hati. Kulihat
Raihana tersenyum manis, tetapi hatiku terasa teriris-iris dan jiwaku meronta. Satu-satunya
harapanku adalah mendapat berkah dari Allah SWT atas baktiku pada ibuku yang kucintai.
Rabbighfir li wa liwalidayya!
Layaknya pengantin baru, kupaksakan untuk mesra tapi bukan cinta, hanya sekedar karena
aku seorang manusia yang terbiasa membaca ayat-ayatNya.
Raihana tersenyum mengembang, hatiku menangisi kebohonganku dan kepura-puraanku.
Tepat dua bulan Raihana kubawa ke kontrakan dipinggir kota Malang.
Mulailah kehidupan hampa. Aku tak menemukan adanya gairah. Betapa susah hidup
berkeluarga tanpa cinta. Makan, minum, tidur, dan shalat bersama dengan makhluk yang
bernama Raihana, istriku, tapi Masya Allah bibit cintaku belum juga tumbuh. Suaranya yang
lembut terasa hambar, wajahnya yang teduh tetap terasa asing. Memasuki bulan keempat,
rasa muak hidup bersama Raihana mulai kurasakan, rasa ini muncul begitu saja. Aku
mencoba membuang jauh-jauh rasa tidak baik ini, apalagi pada istri sendiri yang seharusnya
kusayang dan kucintai. Sikapku pada Raihana mulai lain. Aku lebih banyak diam, acuh tak
acuh, agak sinis, dan tidur pun lebih banyak di ruang tamu atau ruang kerja.
Aku merasa hidupku ada lah sia-sia, belajar di luar negeri sia-sia, pernikahanku sia-sia,
keberadaanku sia-sia.
Tidak hanya aku yang tersiksa, Raihanapun merasakan hal yang sama, karena ia orang yang
berpendidikan, maka diapun tanya, tetapi kujawab ” tidak apa-apa koq mbak, mungkin aku
belum dewasa, mungkin masih harus belajar berumah tangga” Ada kekagetan yang
kutangkap diwajah Raihana ketika kupanggil ‘mbak’, ” kenapa mas memanggilku mbak, aku
kan istrimu, apa mas sudah tidak mencintaiku” tanyanya dengan guratan wajah yang sedih.
“wallahu a’lam” jawabku sekenanya. Dengan mata berkaca-kaca Raihana diam menunduk,
tak lama kemudian dia terisak-isak sambil memeluk kakiku, “Kalau mas tidak mencintaiku,
tidak menerimaku sebagai istri kenapa mas ucapkan akad nikah?
Kalau dalam tingkahku melayani mas masih ada yang kurang berkenan, kenapa mas tidak
bilang dan menegurnya, kenapa mas diam saja, aku harus bersikap bagaimana untuk
membahagiakan mas, kumohon bukalah sedikit hatimu untuk menjadi ruang bagi
pengabdianku, bagi menyempurnakan ibadahku didunia ini”. Raihana mengiba penuh pasrah.
Aku menangis menitikan air mata buka karena Raihana tetapi karena kepatunganku. Hari
terus berjalan, tetapi komunikasi kami tidak berjalan. Kami hidup seperti orang asing tetapi
Raihana tetap melayaniku menyiapkan segalanya untukku.
Suatu sore aku pulang mengajar dan kehujanan, sampai dirumah habis maghrib, bibirku
pucat, perutku belum kemasukkan apa-apa kecuali segelas kopi buatan Raihana tadi pagi,
Memang aku berangkat pagi karena ada janji dengan teman. Raihana memandangiku dengan
khawatir. “Mas tidak apa-apa” tanyanya dengan perasaan kuatir. “Mas mandi dengan air
panas saja, aku sedang menggodoknya, lima menit lagi mendidih” lanjutnya. Aku melepas
semua pakaian yang basah. “Mas airnya sudah siap” kata Raihana. Aku tak bicara sepatah
katapun, aku langsung ke kamar mandi, aku lupa membawa handuk, tetapi Raihana telah
berdiri didepan pintu membawa handuk. “Mas aku buatkan wedang jahe” Aku diam saja.
Aku merasa mulas dan mual dalam perutku tak bisa kutahan.
Dengan cepat aku berlari ke kamar mandi dan Raihana mengejarku dan memijit-mijit pundak
dan tengkukku seperti yang dilakukan ibu. ” Mas masuk angin. Biasanya kalau masuk angin
diobati pakai apa, pakai balsam, minyak putih, atau jamu?” Tanya Raihana sambil
menuntunku ke kamar. “Mas jangan diam saja dong, aku kan tidak tahu apa yang harus
kulakukan untuk membantu Mas”. ” Biasanya dikerokin” jawabku lirih. ” Kalau begitu kaos
mas dilepas ya, biar Hana kerokin” sahut Raihana sambil tangannya melepas kaosku. Aku
seperti anak kecil yang dimanja ibunya. Raihana dengan sabar mengerokin punggungku
dengan sentuhan tangannya yang halus. Setelah selesai dikerokin, Raihana membawakanku
semangkok bubur kacang hijau. Setelah itu aku merebahkan diri di tempat tidur. Kulihat
Raihana duduk di kursi tak jauh dari tempat tidur sambil menghafal Al Quran dengan
khusyu. Aku kembali sedih dan ingin menangis, Raihana manis tapi tak semanis gadis-gadis
mesir titisan Cleopatra.
Dalam tidur aku bermimpi bertemu dengan Cleopatra, ia mengundangku untuk makan malam
di istananya.” Aku punya keponakan namanya Mona Zaki, nanti akan aku perkenalkan
denganmu” kata Ratu Cleopatra. ” Dia memintaku untuk mencarikannya seorang pangeran,
aku melihatmu cocok dan berniat memperkenalkannya denganmu”. Aku mempersiapkan
segalanya. Tepat pukul 07.00 aku datang ke istana, kulihat Mona Zaki dengan pakaian
pengantinnya, cantik sekali. Sang ratu mempersilakan aku duduk di kursi yang berhias
berlian.
Aku melangkah maju, belum sempat duduk, tiba-tiba ” Mas, bangun, sudah jam setengah
empat, mas belum sholat Isya” kata Raihana membangunkanku. Aku terbangun dengan
perasaan kecewa. ” Maafkan aku Mas, membuat Mas kurang suka, tetapi Mas belum sholat
Isya” lirih Hana sambil melepas mukenanya, mungkin dia baru selesai sholat malam.
Meskipun cuman mimpi tapi itu indah sekali, tapi sayang terputus. Aku jadi semakin tidak
suka sama dia, dialah pemutus harapanku dan mimpi-mimpiku. Tapi apakah dia bersalah,
bukankah dia berbuat baik membangunkanku untuk sholat Isya.
Selanjutnya aku merasa sulit hidup bersama Raihana, aku tidak tahu dari mana sulitnya. Rasa
tidak suka semakin menjadi-jadi. Aku benar-benar terpenjara dalam suasana konyol. Aku
belum bisa menyukai Raihana. Aku sendiri belum pernah jatuh cinta, entah kenapa bisa
dijajah pesona gadis-gadis titisan Cleopatra.
” Mas, nanti sore ada acara qiqah di rumah Yu Imah. Semua keluarga akan datang termasuk
ibundamu. Kita diundang juga. Yuk, kita datang bareng, tidak enak kalau kita yang dielukelukan
keluarga tidak datang” Suara lembut Raihana menyadarkan pengembaraanku pada
Jaman Ibnu Hazm. Pelan-pelan ia letakkan nampan yang berisi onde-onde kesukaanku dan
segelas wedang jahe.
Tangannya yang halus agak gemetar. Aku dingin-dingin saja. ” Maaf..maaf jika mengganggu
Mas, maafkan Hana,” lirihnya, lalu perlahan-lahan beranjak meninggalkan aku di ruang
kerja. ” Mbak! Eh maaf, maksudku D..Din..Dinda Hana!, panggilku dengan suara parau
tercekak dalam tenggorokan. ” Ya Mas!” sahut Hana langsung menghentikan langkahnya dan
pelan-pelan menghadapkan dirinya padaku. Ia berusaha untuk tersenyum, agaknya ia bahagia
dipanggil “dinda”. ” Matanya sedikit berbinar. “Te..terima kasih Di..dinda, kita berangkat
bareng kesana, habis sholat dhuhur, insya Allah,” ucapku sambil menatap wajah Hana
dengan senyum yang kupaksakan.
Raihana menatapku dengan wajah sangat cerah, ada secercah senyum bersinar dibibirnya. ”
Terima kasih Mas, Ibu kita pasti senang, mau pakai baju yang mana Mas, biar dinda siapkan?
Atau biar dinda saja yang memilihkan ya?”.
Hana begitu bahagia.
Perempuan berjilbab ini memang luar biasa, Ia tetap sabar mencurahkan bakti meskipun aku
dingin dan acuh tak acuh padanya selama ini. Aku belum pernah melihatnya memasang
wajah masam atau tidak suka padaku. Kalau wajah sedihnya ya. Tapi wajah tidak sukanya
belum pernah. Bah, lelaki macam apa aku ini, kutukku pada diriku sendiri. Aku memakimaki
diriku sendiri atas sikap dinginku selama ini., Tapi, setetes embun cinta yang
kuharapkan membasahi hatiku tak juga turun. Kecantikan aura titisan Cleopatra itu?
Bagaimana aku mengusirnya. Aku merasa menjadi orang yang paling membenci diriku
sendiri di dunia ini.
Acara pengajian dan qiqah putra ketiga Fatimah kakak sulung Raihana membawa sejarah
baru lembaran pernikahan kami. Benar dugaan Raihana, kami dielu-elukan keluarga,
disambut hangat, penuh cinta, dan penuh bangga. “
Selamat datang pengantin baru! Selamat datang pasangan yang paling ideal dalam keluarga!
Sambut Yu Imah disambut tepuk tangan bahagia mertua dan bundaku serta kerabat yang lain.
Wajah Raihana cerah. Matanya berbinar-binar bahagia. Lain dengan aku, dalam hatiku
menangis disebut pasangan ideal.
Apanya yang ideal. Apa karena aku lulusan Mesir dan Raihana lulusan terbaik dikampusnya
dan hafal Al Quran lantas disebut ideal? Ideal bagiku adalah seperti Ibnu Hazm dan istrinya,
saling memiliki rasa cinta yang sampai pada pengorbanan satu sama lain. Rasa cinta yang
tidak lagi memungkinkan adanya pengkhianatan. Rasa cinta yang dari detik ke detik
meneteskan rasa bahagia.
Tapi diriku? Aku belum bisa memiliki cinta seperti yang dimiliki Raihana.
Sambutan sanak saudara pada kami benar-benar hangat. Aku dibuat kaget oleh sikap Raihana
yang begitu kuat menjaga kewibawaanku di mata keluarga. Pada ibuku dan semuanya tidak
pernah diceritakan, kecuali menyanjung kebaikanku sebagai seorang suami yang dicintainya.
Bahkan ia mengaku bangga dan bahagia menjadi istriku. Aku sendiri dibuat pusing dengan
sikapku. Lebih pusing lagi sikap ibuku dan mertuaku yang menyindir tentang keturunan. ”
Sudah satu tahun putra sulungku menikah, koq belum ada tanda-tandanya ya, padahal aku
ingin sekali menimang cucu” kata ibuku. ” Insya Allah tak lama lagi, ibu akan menimang
cucu, doakanlah kami. Bukankah begitu, Mas?” sahut Raihana sambil menyikut lenganku,
aku tergagap dan mengangguk sekenanya.
Setelah peristiwa itu, aku mencoba bersikap bersahabat dengan Raihana. Aku berpura-pura
kembali mesra dengannya, sebagai suami betulan. Jujur, aku hanya pura-pura. Sebab bukan
atas dasar cinta, dan bukan kehendakku sendiri aku melakukannya, ini semua demi ibuku.
Allah Maha Kuasa. Kepura-puraanku memuliakan Raihana sebagai seorang istri. Raihana
hamil. Ia semakin manis.
Keluarga bersuka cita semua. Namun hatiku menangis karena cinta tak kunjung tiba. Tuhan
kasihanilah hamba, datangkanlah cinta itu segera. Sejak itu aku semakin sedih sehingga
Raihana yang sedang hamil tidak kuperhatikan lagi. Setiap saat nuraniku bertanya” Mana
tanggung jawabmu!” Aku hanya diam dan mendesah sedih. ” Entahlah, betapa sulit aku
menemukan cinta” gumamku.
Dan akhirnya datanglah hari itu, usia kehamilan Raihana memasuki bulan ke enam. Raihana
minta ijin untuk tinggal bersama orang tuanya dengan alasan kesehatan. Kukabulkan
permintaanya dan kuantarkan dia kerumahnya. Karena rumah mertua jauh dari kampus
tempat aku mengajar, mertuaku tak menaruh curiga ketika aku harus tetap tinggal
dikontrakan. Ketika aku pamitan, Raihana berpesan, ” Mas untuk menambah biaya kelahiran
anak kita, tolong nanti cairkan tabunganku yang ada di ATM. Aku taruh dibawah bantal,
no.pinnya sama dengan tanggal pernikahan kita”.
Setelah Raihana tinggal bersama ibunya, aku sedikit lega. Setiap hari Aku tidak bertemu
dengan orang yang membuatku tidak nyaman. Entah apa sebabnya bisa demikian. Hanya saja
aku sedikit repot, harus menyiapkan segalanya.
Tapi toh bukan masalah bagiku, karena aku sudah terbiasa saat kuliah di Mesir.
Waktu terus berjalan, dan aku merasa enjoy tanpa Raihana. Suatu saat aku pulang kehujanan.
Sampai rumah hari sudah petang, aku merasa tubuhku benar-benar lemas. Aku muntahmuntah,
menggigil, kepala pusing dan perut mual. Saat itu terlintas dihati andaikan ada
Raihana, dia pasti telah menyiapkan air panas, bubur kacang hijau, membantu mengobati
masuk angin dengan mengeroki punggungku, lalu menyuruhku istirahat dan menutupi
tubuhku dengan selimut. Malam itu aku benar-benar tersiksa dan menderita. Aku terbangun
jam enam pagi. Badan sudah segar. Tapi ada penyesalan dalam hati, aku belum sholat Isya
dan terlambat sholat subuh. Baru sedikit terasa, andaikan ada Raihana tentu aku ngak
meninggalkan sholat Isya, dan tidak terlambat sholat subuh.
Lintasan Raihana hilang seiring keberangkatan mengajar di kampus. Apalagi aku mendapat
tugas dari universitas untuk mengikuti pelatihan mutu dosen mata kuliah bahasa arab.
Diantaranya tutornya adalah professor bahasa arab dari Mesir. Aku jadi banyak berbincang
dengan beliau tentang mesir. Dalam pelatihan aku juga berkenalan dengan Pak Qalyubi,
seorang dosen bahasa arab dari Medan. Dia menempuh S1-nya di Mesir. Dia menceritakan
satu pengalaman hidup yang menurutnya pahit dan terlanjur dijalani. “Apakah kamu sudah
menikah?” kata Pak Qalyubi. “Alhamdulillah, sudah” jawabku. ” Dengan orang mana?. ”
Orang Jawa”. ” Pasti orang yang baik ya. Iya kan? Biasanya pulang dari Mesir banyak
saudara yang menawarkan untuk menikah dengan perempuan shalehah. Paling tidak
santriwati, lulusan pesantren. Istrimu dari pesantren?”. “Pernah, alhamdulillah dia sarjana
dan hafal Al Quran”. ” Kau sangat beruntung, tidak sepertiku”. ” Kenapa dengan Bapak?” ”
Aku melakukan langkah yang salah, seandainya aku tidak menikah dengan orang Mesir itu,
tentu batinku tidak merana seperti sekarang”. ” Bagaimana itu bisa terjadi?”. “
Kamu tentu tahu kan gadis Mesir itu cantik-cantik, dan karena terpesona dengan
kecantikanya saya menderita seperti ini. Ceritanya begini, Saya seorang anak tunggal dari
seorang yang kaya, saya berangkat ke Mesir dengan biaya orang tua. Disana saya bersama
kakak kelas namanya Fadhil, orang Medan juga. Seiring dengan berjalannya waktu, tahun
pertama saya lulus dengan predikat jayyid, predikat yang cukup sulit bagi pelajar dari
Indonesia.
Demikian juga dengan tahun kedua. Karena prestasi saya, tuan rumah tempat saya tinggal
menyukai saya. Saya dikenalkan dengan anak gadisnya yang bernama Yasmin. Dia tidak
pakai jilbab. Pada pandangan pertama saya jatuh cinta, saya belum pernah melihat gadis
secantuk itu. Saya bersumpah tidak akan menikah dengan siapapun kecuali dia. Ternyata
perasaan saya tidak bertepuk sebelah tangan. Kisah cinta saya didengar oleh Fadhil. Fadhil
membuat garis tegas, akhiri hubungan dengan anak tuan rumah itu atau sekalian lanjutkan
dengan menikahinya. Saya memilih yang kedua.
Ketika saya menikahi Yasmin, banyak teman-teman yang memberi masukan begini, samasama
menikah dengan gadis Mesir, kenapa tidak mencari mahasiswi Al Azhar yang hafal Al
Quran, salehah, dan berjilbab. Itu lebih selamat dari pada dengan Yasmin yang awam
pengetahuan agamanya. Tetapi saya tetap teguh untuk menikahinya. Dengan biaya yang
tinggi saya berhasil menikahi Yasmin.
Yasmin menuntut diberi sesuatu yang lebih dari gadis Mesir. Perabot rumah yang mewah,
menginap di hotel berbintang. Begitu selesai S1 saya kembali ke Medan, saya minta agar
asset yang di Mesir dijual untuk modal di Indonesia. Kami langsung membeli rumah yang
cukup mewah di kota Medan. Tahun-tahun pertama hidup kami berjalan baik, setiap
tahunnya Yasmin mengajak ke Mesir menengok orang tuanya. Aku masih bisa memenuhi
semua yang diinginkan Yasmin. Hidup terus berjalan, biaya hidup semakin nambah, anak
kami yang ketiga lahir, tetapi pemasukan tidak bertambah. Saya minta Yasmin untuk
berhemat. Tidak setiap tahun tetapi tiga tahun sekali namun Yasmin tidak bisa.
Aku mati-matian berbisnis, demi keinginan Yasmin dan anak-anak terpenuhi. Sawah terakhir
milik Ayah saya jual untuk modal. Dalam diri saya mulai muncul penyesalan. Setiap kali
saya melihat teman-teman alumni Mesir yang hidup dengan tenang dan damai dengan
istrinya. Bisa mengamalkan ilmu dan bisa berdakwah dengan baik. Dicintai masyarakat. Saya
tidak mendapatkan apa yang mereka dapatkan. Jika saya pengen rendang, saya harus ke
warung. Yasmin tidak mau tahu dengan masakan Indonesia.
Kau tahu sendiri, gadis Mesir biasanya memanggil suaminya dengan namanya. Jika ada
sedikit letupan, maka rumah seperti neraka. Puncak penderitaan saya dimulai setahun yang
lalu. Usaha saya bangkrut, saya minta Yasmin untuk menjual perhiasannya, tetapi dia tidak
mau. Dia malah membandingkan dirinya yang hidup serba kurang dengan sepupunya.
Sepupunya mendapat suami orang Mesir.
Saya menyesal meletakkan kecantikan diatas segalanya. Saya telah diperbudak dengan
kecantikannya. Mengetahui keadaan saya yang terjepit, ayah dan ibu mengalah. Mereka
menjual rumah dan tanah, yang akhirnya mereka tinggal di ruko yang kecil dan sempit. Batin
saya menangis. Mereka berharap modal itu cukup untuk merintis bisnis saya yang bangkrut.
Bisnis saya mulai bangkit, Yasmin mulai berulah, dia mengajak ke Mesir. Waktu di Mesir
itulah puncak tragedy yang menyakitkan. ” Aku menyesal menikah dengan orang Indonesia,
aku minta kau ceraikan aku, aku tidak bisa bahagia kecuali dengan lelaki Mesir”. Kata
Yasmin yang bagaikan geledek menyambar. Lalu tanpa dosa dia bercerita bahwa tadi di
KBRI dia bertemu dengan temannya. Teman lamanya itu sudah jadi bisnisman, dan istrinya
sudah meninggal.
Yasmin diajak makan siang, dan dilanjutkan dengan perselingkuhan. Aku pukul dia karena
tak bisa menahan diri. Atas tindakan itu saya dilaporkan ke polisi. Yang menyakitkan adalah
tak satupun keluarganya yang membelaku. Rupanya selama ini Yasmin sering mengirim
surat yang berisi berita bohong.
Sejak saat itu saya mengalami depresi. Dua bulan yang lalu saya mendapat surat cerai dari
Mesir sekaligus mendapat salinan surat nikah Yasmin dengan temannya. Hati saya sangat
sakit, ketika si sulung menggigau meminta ibunya pulang”.
Mendengar cerita Pak Qulyubi membuatku terisak-isak. Perjalanan hidupnya
menyadarkanku. Aku teringat Raihana. Perlahan wajahnya terbayang dimataku, tak terasa
sudah dua bualn aku berpisah dengannya. Tiba-tiba ada kerinduan yang menyelinap dihati.
Dia istri yang sangat shalehah. Tidak pernah meminta apapun. Bahkan yang keluar adalah
pengabdian dan pengorbanan. Hanya karena kemurahan Allah aku mendapatkan istri seperti
dia. Meskipun hatiku belum terbuka lebar, tetapi wajah Raihana telah menyala didindingnya.
Apa yang sedang dilakukan Raihana sekarang? Bagaimana kandungannya? Sudah delapan
bulan. Sebentar lagi melahirkan. Aku jadi teringat pesannya. Dia ingin agar aku mencairkan
tabungannya.
Pulang dari pelatihan, aku menyempatkan ke toko baju muslim, aku ingin membelikannya
untuk Raihana, juga daster, dan pakaian bayi. Aku ingin memberikan kejutan, agar dia
tersenyum menyambut kedatanganku. Aku tidak langsung ke rumah mertua, tetapi ke
kontrakan untuk mengambil uang tabungan, yang disimpan dibawah bantal. Dibawah kasur
itu kutemukan kertas Merah jambu. Hatiku berdesir, darahku terkesiap. Surat cinta siapa ini,
rasanya aku belum pernah membuat surat cinta untuk istriku. Jangan-jangan ini surat cinta
istriku dengan lelaki lain. Gila! Jangan-jangan istriku serong. Dengan rasa takut kubaca surat
itu satu persatu. Dan ya Rabbii ternyata surat-surat itu adalah ungkapan hati Raihana yang
selama ini aku zhalimi. Ia menulis, betapa ia mati-matian mencintaiku, meredam rindunya
akan belaianku. Ia menguatkan diri untuk menahan nestapa dan derita yang luar biasa. Hanya
Allah lah tempat ia meratap melabuhkan dukanya. Dan ya .. Allah, ia tetap setia
memanjatkan doa untuk kebaikan suaminya.
Dan betapa dia ingin hadirnya cinta sejati dariku.
“Rabbi dengan penuh kesyukuran, hamba bersimpuh dihadapan-Mu. Lakal hamdu ya Rabb.
Telah muliakan hamba dengan Al Quran. Kalaulah bukan karena karunia-Mu yang agung ini,
niscaya hamba sudah terperosok kedalam jurang kenistaan. Ya Rabbi, curahkan tambahan
kesabaran dalam diri hamba” tulis Raihana.
Dalam akhir tulisannya Raihana berdoa” Ya Allah inilah hamba-Mu yang kerdil penuh noda
dan dosa kembali datang mengetuk pintumu, melabuhkan derita jiwa ini kehadirat-Mu. Ya
Allah sudah tujuh bulan ini hamba-Mu ini hamil penuh derita dan kepayahan. Namun kenapa
begitu tega suami hamba tak mempedulikanku dan menelantarkanku. Masih kurang apa rasa
cinta hamba padanya. Masih kurang apa kesetiaanku padanya. Masih kurang apa baktiku
padanya? Ya Allah, jika memang masih ada yang kurang, ilhamkanlah pada hamba-Mu ini
cara berakhlak yang lebih mulia lagi pada suamiku.
Ya Allah, dengan rahmatMu hamba mohon jangan murkai dia karena kelalaiannya. Cukup
hamba saja yang menderita. Maafkanlah dia, dengan penuh cinta hamba masih tetap
menyayanginya. Ya Allah berilah hamba kekuatan untuk tetap berbakti dan memuliakannya.
Ya Allah, Engkau maha Tahu bahwa hamba sangat mencintainya karena-Mu. Sampaikanlah
rasa cinta ini kepadanya dengan cara-Mu. Tegurlah dia dengan teguran-Mu. Ya Allah
dengarkanlah doa hamba-Mu ini. Tiada Tuhan yang layak disembah kecuali Engkau, Maha
Suci Engkau”.
Tak terasa air mataku mengalir, dadaku terasa sesak oleh rasa haru yang luar biasa. Tangisku
meledak. Dalam tangisku semua kebaikan Raihana terbayang. Wajahnya yang baby face dan
teduh, pengorbanan dan pengabdiannya yang tiada putusnya, suaranya yang lembut,
tanganya yang halus bersimpuh memeluk kakiku, semuanya terbayang mengalirkan perasaan
haru dan cinta. Dalam keharuan terasa ada angina sejuk yang turun dari langit dan merasuk
dalam jiwaku. Seketika itu pesona Cleopatra telah memudar berganti cinta Raihana yang
datang di hati. Rasa sayang dan cinta pada Raihan tiba-tiba begitu kuat mengakar dalam
hatiku. Cahaya Raihana terus berkilat-kilat dimata. Aku tiba-tiba begitu merindukannya.
Segera kukejar waktu untuk membagi Cintaku dengan Raihana.
Kukebut kendaraanku. Kupacu kencang seiring dengan air mataku yang menetes sepanjang
jalan. Begitu sampai di halaman rumah mertua, nyaris tangisku meledak. Kutahan dengan
nafas panjang dan kuusap air mataku. Melihat kedatanganku, ibu mertuaku memelukku dan
menangis tersedu- sedu. Aku jadi heran dan ikut menangis. ” Mana Raihana Bu?”. Ibu
mertua hanya menangis dan menangis. Aku terus bertanya apa sebenarnya yang telah terjadi.
” Raihana…istrimu. .istrimu dan anakmu yang dikandungnya” . ” Ada apa dengan dia”. ” Dia
telah tiada”. ” Ibu berkata apa!”. ” Istrimu telah meninggal seminggu yang lalu. Dia terjatuh
di kamar mandi. Kami membawanya ke rumah sakit. Dia dan bayinya tidak selamat.
Sebelum meninggal, dia berpesan untuk memintakan maaf atas segala kekurangan dan
kekhilafannya selama menyertaimu.
Dia meminta maaf karena tidak bisa membuatmu bahagia. Dia meminta maaf telah dengan
tidak sengaja membuatmu menderita. Dia minta kau meridhionya” .
Hatiku bergetar hebat. ” kenapa ibu tidak memberi kabar padaku?”. “
Ketika Raihana dibawa ke rumah sakit, aku telah mengutus seseorang untuk menjemputmu
di rumah kontrakan, tapi kamu tidak ada. Dihubungi ke kampus katanya kamu sedang
mengikuti pelatihan. Kami tidak ingin mengganggumu. Apalagi Raihana berpesan agar kami
tidak mengganggu ketenanganmu selama pelatihan. Dan ketika Raihana meninggal kami
sangat sedih, Jadi Maafkanlah kami”.
Aku menangis tersedu-sedu. Hatiku pilu. Jiwaku remuk. Ketika aku merasakan cinta
Raihana, dia telah tiada. Ketika aku ingin menebus dosaku, dia telah meninggalkanku. Ketika
aku ingin memuliakannya dia telah tiada. Dia telah meninggalkan aku tanpa memberi
kesempatan padaku untuk sekedar minta maaf dan tersenyum padanya. Tuhan telah
menghukumku dengan penyesalan dan perasaan bersalah tiada terkira.
Ibu mertua mengajakku ke sebuah gundukan tanah yang masih baru dikuburan pinggir desa.
Diatas gundukan itu ada dua buah batu nisan. Nama dan hari wafat Raihana tertulis disana.
Aku tak kuat menahan rasa cinta, haru, rindu dan penyesalan yang luar biasa. Aku ingin
Raihana hidup kembali. Dunia tiba-tiba gelap semua ……..
Sumber :
Buku : Pudarnya Pesona Cleopatra ( Novel Psikologi Islam Pembangun Jiwa )
Karangan : Habiburrahman El Shirazy ( Penulis Novel best seller Ayat-ayat cinta)
- Y & ! -
Cerpen: Sepasang kupu2 Biru
SEPASANG KUPU-KUPU BIRU
Sejenak terdiam diriku di ambang pintu. Meneliti dan merasakan sesusatu yang tiba-tiba saja datang mendesak-desak isi kepalaku. Ku rasakan urat-urat syaraf meregang, otak ku seakan membersar seperti balon, memenuhi ruang dalam kepalaku. Hingga oxsigen pun tak mampu menembus masuk kedalam. Berat dan semakin berat kepala yang ku bawa saat ini.
Segera tanganku mengaduk-aduk isi dalam tas. Berharap menemukan sesuatu yang dapat membuka pintu kamar. Tak lama kemudian ku dapat apa yang ku cari. Dengan peluh yang terus mengucur menahan sakit, ku buka dan kudorong pintu kamar itu dengan paksa. Tak sanggup lagi rasanya kaki ini menopang tubuh untuk berdiri, hingga akhirnya tubuh ini menghempaskan dirinya di atas kasur.
Ku genggam, ku remas apasaja yang ada didekatku. Seprei, bantal, guling slimut,sampai si Blue Bear (boneka kesayanganku) ikut merasakan sakit kepala yang teramat sangat menyiksaku saat ini. Aku masih merintih bercucur peluh kesakitan, ketika sesosok bayangan tiba-tiba masuk ke dalam kamar kostku. Kemudian sesosok bayangan itu tanpa ku pinta telah meraihku,menempelkan tubuhku di dadanya dan mengelus kepalaku dengan lembut.
Seketika aku terdiam. Dengan mata yang masih terpejam,tak ada rintih tangis kesakitan yang aku rasakan kali ini. Hanyalah peluh yang masih tersisa. Sungguh, diriku telah terhanyut di dalam pelukan penuh dengan rasa cinta dan kasih yang sudah lama tidak aku rasakan sejak 3 tahun yang lalu. Ketika aku pergi dari rumah orang tuaku,yang telah ku anggap merekalah pembunuh dari kak Doni. Seorang kakak yang telah menggantikan figur orang tua yang selama ini sibuk dengan kesibukan mereka.
Dirumah yang terlihat bagai Istana bagi sebagian orang yang melihatnya dari luar, tapi rumah itu adalah neraka bagi kami, aku dan kakakku yang haus oleh kasih-sayang keluarga. Ayah sibuk dengan bisnisnya yang selalu saja berkunjung dari negara satu ke negara lain. Sedangkan ibu yang punya pekerjaan ganda, selain menjadi istri bagi ayah, ibu dari anaknya dan sekretaris pribadi yang selalu siap membantu dan menyertai ayah baik urusan kantor atau yang lain. Hingga saking sibuknya mereka mungurus perusahaan keluarga yang telah memiliki cabang di berbagai negara itu, tak jarang hingga sekedar mencium kening dan mengucapkan selamat tidur untuk kami pun tidak sempat. Hanya Kak Doni lah satu-satunya orang yang slalu ada, melindungiku, memberiku kasih sayang. Kasih sayang yang telah hilang dan selalu ku rindukan kehadirannya dari orang tua kami.Akan tetapi 3 th yang lalu Kakak yang teramat kusayangi itu hanya sekejap saja kasihnya aku rasakan. Sebab dia telah meninggalkan ku sendiri, karena dia telah di panggil oleh Rabb yang maha berkehendak.
Entah, sakit apa yang diderita kakakku saat itu hingga ia sampai meninggal. Tak pernah sekalipun kak Doni memberitahuku tentang penyakit yang dideritanya.
“Kak Doni…..” Tanpa membuka mata, ku sebut nama seseorang yang begitu ku rindukan. “Bukan sayang, ini ayah. Ayah datang untuk menjenguk mu!!” suara itu sayup-sayup terdengar oleh telingaku yang ikut melemah. Ketika sarafku mulai menangkap suara itu, batin dan seluruh tubuhku tercengang. Sontak, ku lepas pelukan itu dan mataku terpaku seakan tak percaya melihat kehadiran laki-laki paruh baya yang hampir hilang dari ingatanku itu, kini ada dihadapanku dan merengkuh pundakku. “Ayah!!! Kenapa kau bisa………” belum selesai aku berbicara,suara ini seakan menyangkut di tenggorokan. Kurasakan setelah itu hanyalah sakit di kepalaku semakin menjadi, dan sekejap semua terlihat gelap….gelap….dan gelap.
***
Asap kenalpot,debu-depu berterbangan, suara-suara bising dari bus,angkot dan kendaraan yang lalu-lalang siang itu rupanya tidak mempengaruhi ketenangan di SMA Negeri 4 Surakarta, yang saat itu menjadi tempat pelaksanaan olimpiade matematika se-Karisidenan Surakarta. Dalam sebuah kelas yang begitu hening, penuh hawa ketegangan yang terpancar dari gurat wajah para peserta, ku lirik jam tangan asal Paris pemberian ayah. “10 menit lagi!” gumamku dalam batin. Kemudian kembali lagi aku bertarung dengan soal-soal olimpiade dan rumus-rumus.
Tepatnya, 1 minggu yang lalu Bu Liana, wali kelas sekaligus guru matematika di sekolahku memintaku untuk ikut olimpiade ini. Ingin sekali aku menolak tawaran itu, jika ku ingat kak Doni saat itu sedang terbaring tak berdaya di rumah sakit. Tetapi saat aku ceritakan tawaran itu pada kak Doni, ia malah mendukung ku 100% untuk mengikutinya. “Devia sayang, kakak lihat kau senang sekali dengan matematika. Ingat,kesempatan tidak datang untuk kedua kali! Tunjukkan pada Kakak, Ayah dan ibu, kalau kau itu memang suka matematika!!” ucapnya sembari menepuk pundakku. “Tapi kak, siapa yang menemani kakak di rumah sakit? Lagipula, apakah ayah dan ibu masih peduli sama kita?? Meski mereka tahu kakak sakitpun, mereka tidak pulang juga!” Jawabku khawatir dan setehah sinis pada orang tuaku. “Ssstttt…..!! kau tidak boleh bicara begitu. Sekali lagi kakak dengar, kakak akan marah pada mu!” ancaman kak Doni membuatku tertunduk dan terdiam mengalah. Walau dalam hatiku masih terasa sesak, sesak oleh rasa benci pada orang tuaku yang tidak pernah memperhatikan kami.
Sudah tak terasa,60 menit cepat sekali berlalu. Tinggal menunggu setengah jam lagi hasil olimpiade akan keluar. Cepat memang, karena semua jawaban di tulis pada LJK(Lembar Jawab Komputer) dan di koreksi lewat computer pula,sehingga tak perlu waktu lama untuk menggetahi hasilnya. Sembari menungu waktu terus berlalu di sebuah kursi taman aku duduk sambil termenung lesu. Di kepalaku bukanlah angka atau pun rumus-rumus lagi yang ada tapi rasa cemas, sedih dan khawatir bercampur menjadi satu kesatuan. Mengingat kondisi kak Doni tadi pagi, wajahnya terlihat sangat pucat, merintih, sambil memegangi kepalanya yang gundul. Rasanya aku ingin membatalkan ikut olimpiade ini, tapi kak Doni melarang ku, ia ingin melihat aku menjadi sang juara. Tak rela rasanya membiarkan ia melawan sakit sendirian.Hingga butiran embun di mataku mengalir dan aku berjanji padanya untuk membawa piala kemenangan di depannya. Kemudian, dia tersenyum bangga padaku seolah sakit yang ia derita sudah sembuh seketika.
Menit berganti menit terasa begitu cepat, hingga tanpa aku sadari hasil olimpiade telah diumumkan.“Devia ada apa, kamu sakit?” tegur bu Liana menghampiriku yang sedang duduk di sebuah kursi taman, sembari meletakkan tangannya di keningku yang membuatku kaget. “Eh…..bu Liana!! Saya baik-baik saja kok bu” Jawabku sopan. “Baiklah!” kata beliau kemudian yang duduk tepat di sebelah kananku. “Ibu ke sini hanya ingin menyerahkan ini pada mu.” Katanya sembari menyerahkan sebendel kertas padaku. “Apa ini bu?” ucapku mengambil kertas itu.”Cobalah kamu baca dulu!” sahutnya kemudian. Aku membaca judul sebendel kertas yang diberikan Bu Liana itu pada ku. “PENGUMUMAN HASIL OLIMPIADE MATEMATIKA SE-KARISIDENAN SURAKARTA”. Rupanya tak sulit untuk menemukan namaku di sana, karena tak pernah ku sangka dari 500 peserta yang ada akulah yang menjadi juara pertama. Sungguh, walau akal sehatku tak pernah menyangka hal ini kanan terjadi tapi bibirku tak henti-henti mengucap syukur pada Allah Ta’ala yang memberikan rizkinya pada siapa saja yang Dia kehendaki..
Siang itu, matahari yang biasanya bersinar dengan terik kini seakan mengalah pada mendung yang menghadangnya. Angin dingin mulai bertiup lembut, memerintahkan daun-daun kering untuk jatuh berhamburan dihalaman rumah sakit, seakan mengiringiku berlari menuju kamar dimana kak Doni dirawat. Erat tanganku menggenggam piala, senyum termanis dan terlebar yang kini menghiasi wajahku. Sudah tak sabar rasanya ingin segera memberitahukan kabar gembira ini pada kak Doni.
Sampai di depan kamarnya, aku berpapasan dengan dokter Candra yang merawat kakakku. “Devia…kau harus tabah menghadapi cobaan dari Allah ya Nak!!” Dia menatapku, mengelus kepalaku dan kemudian berlalu begitu saja. Menyisakan penuh tanda tanya di benakku “Apakah yang sedang terjadi??”. Ku buka pintu kamar kak Doni perlahan, aku mendengar suara seorang wanita yang sepertinya tak asing di telinmgaku seperti sedang menangis. “Ibu…Ayah….?” Kupandang mereka bergantian, dan ketika aku melihat wajah kak Doni telah tertutup selimut blue bear pemberianku itu, aku mencoba untuk mendekatinya dengan perlahan. Tak ku peduliakan lagi Ayah ibuku yang menangis,seakan menyesali semua yang telah terjadi. Ku buka selimut yang menutupi wajahnya, “Kak, coba lah kau bangun kak, jangan tidur terus! Lihat, apa yang kubawa? Aku menang kak, dan piala ini ku persembahkan untuk mu!” ku goyang-goyang tubuh kak Doni, tapi ia tak menyahut ucapanku. Wajah kak Doni begitu pucat dan saat ku sentuh tangannya terasa dingin. Hingga tanpa sadar, piala yang ku bawa jatuh dan pecah. Ku langkahkan kaki kebelakang dengan gontai, menggelengkan kepala, aku tak percaya bahwa pada saat itu kak Doni, kakak yang teramat berharga bagiku itu telah tiada.
***
“Kak Doni….. jangan tinggal kan Devia sendiri kak! Kak Doni……” Aku menangis berteriak sekencang-kencangnya. “Devia, Devia! Bangun Nak, tenang! kau dirumah sakit sekarang.” Suara seorang wanita yang terasa sudah lama sekali tidak ku dengar lagi itu, mengelus pipiku dan membangunkanku. Ku buka mata ini perlahan, ku pandang wajah wanita yang ada di depanku itu dan mengingatnya. “Ibu…??” Kata itu yang keluar dari bibirku kemudian. “Iya nak, apa yang kau rasakan sekarang? Kau sudah merasa lebih baik?” suara dan wajahnya meperlihatkan rasa cemas. Ku coba untuk bangun dari tempat tidur, tapi tubuhku terasa berat dan kepala kupun ikut terasa sangat pusing. “Kau jangan bangun dulu nak! Tubuh mu masih lemah!” kata ibuku sambil memegangi tanganku yang memaksa ingin bangun. “Lepaskan!!” Ku hempaskan genggaman tangannya. “Jangan pegang aku! Aku bukan anak mu, dan anda juga bukan ibu ku!” kataku pada wanita yang ada dihadapan ku. “Devia, ini Ibu nak? Apakah kau sudah lupa dengan Ibumu?” katanya kaget mendengar ucapan ku. “Bukan! Anda bukan ibu ku. Tapi anda adalah seorang pembunuh!” aku sangat marah, seperti ada api yang menyala-nyala di dadaku.” Kemana saja anda, di saat putra anda kedinginan, merindukan kasih sayang dan di mana kalian saat kak Doni melawan penyakitnya sendirian? Ayo jawab!!!” suaraku mengeras, rasa amarah di dadaku seakan tak terbendung lagi. Air mataku pun keluar seakan ikut merasakan sesak yang aku alami. “Maafkan kami nak! Maaf kan kesalahan ayah dan ibu mu yang tidak tahu betapa berharganya Doni dan kau Devia dalam kehidupan kami.” Suara sesosok laki-laki yang tadi malam memelukku, sekarang ku dengar lagi. Pandangan mataku beralih, dari wanita yang tadi menangis menatapku penuh cemas kini pindah pada seorang laki-laki yang wajahnya penuh keriput, kantung matanya terlihat begitu jelas, tubuhnya yang kurus, serta rambutnya yang putih menutupi seluruh kulit kepala hingga tak terlihat satu helai pun rambutnya yang hitam. “Ayah….” Nama itu ku ucap kembali. “Ya, putri ku. Kami telah mencari mu selama 3 tahun ini. Kami berdoa, menunggu mu, tapi kau tak pernah lagi pulang kerumah. Kemana saja kau nak? Kami khawatir pada mu!” katanya sembari mendekatiku perlahan. Aku diam sejenak,”Buat apa aku di rumah, kalau memang hanya untuk menjadi bunga yang kering, tak pernah terpupuk kasih sayang dan tak pernah disirami oleh cinta!” sahutku dengan tangan mengepal, menahan sakit di hati dan kepalaku. “Nak Ayah dan ibu memang salah pada kalian berdua. Kami terlalu sibuk dengan urusan kantor sehingga melupan kalian. Tapi setelah kematian Kakak mu Doni, kami sadar bahwa kami begitu egois hingga……” Ibu tak sanggup bicara lagi, dia merajuk di pelukan ayah.”hingga kakak mu Doni pergi untuk selamanya. Kami pun tak pernah tahu kalau kakakmu meninggal gara-gara…..gara-gara kanker otak yang dideritanya.”Ayah dan ibu sekarang berpelukan dan menangis. “Kanker, kanker otak???” aku kaget luar biasa, ternyata tak satupun dari anggota keluargaku yang tahu kalau kak Doni menderita kanker, apalagi kanker otak.
“Ya anakku, dan kami tidak mau kau dan Danar meninggalkan kami lagi!” Ayah melepaskan pelukan ibu dan mendekatiku. “Danar?? Siapa dia?? Dan apa maksud kata-kata ayah tadi??” sungguh kata itu yang berputar-putar di kepalaku. Seakan semua penuh dengan misteri. “Devia, kau lah satu-satunya putri ayah yang paling ayah banggakan. Ayah dan ibu tau, kau sangat membenci kami dan mengira kamilah pembunuh Kakakmu.” Ayah berhenti dan menatapku lebih dekat.”Tidak nak, kau salah jika mengira kami setega itu melakukannya. Kami bekerja tak kenal waktu hanya untuk kalian!” tatapan ayah seakan menusuk jantungku. Kulirik ibuku, dia berada di belakang ayah yang hanya diam,tertunduk menangis, giginya yang putih menggigit kuku-kuku yang panjang dan terawat. Beliau tampak begitu sedih, hingga tak dapat berkata-kata lagi.
“Ibu…….bu….!!” suara seorang anak laki-laki terdengar masuk menyusup masuk. Kami semua menoleh,termasuk aku. “eh, Danar! Kemarilah nak, kesini dekat ibu” ibu meraih anak itu dan memeluknya penuh cinta. Saat kulihat kejadian itu ku akui, aku cemburu. “Siapa anak itu dan kenapa ibu memeluknya begitu hangat! Tak pernah rasanya aku dulu dipeluk ibu sehangat itu.” Sebelum ku ucapkan kata-kata itu, ayah seperti dapat membaca apa yang ada di pikiranku “Itu Danar, adik kandunggu Devia, umurnya sekarang 3 tahun. Lihatlah, wajahnya mirip seperti wajahmu!” Ayah tersenyum, memperkenalkan anak itu padaku dan kembali menatap ekspresiku yang datar. Aku tak manjawab, ku tatap wajah anak itu lebih dekat. “Tidak ayah, dia lebih mirip kak Doni! Bentuk wajahnya yang oval, rambutnya yang ikal, sorot mata yang tajam,hidung yang mancung, kulitnya kuning dan bersih, semuanya!” Aku mencoba tersenyum pada anak itu semanis mungkin, diapun membalas senyuman ku.
Ketika aku melihat wajahnya, seakan aku melihat kak Doni telah lahir kembali dan dia kini berdiri di hadapanku. “Bu, apa ini kak Devia yang ibu seling celitakan?” Dengan bahasa cadelnya anak itu mendongak ke atas,menatap ibuku penasaran. “Iya sayang!” ibuku tersenyum lembut pada anak itu. “Wow, benalkah?” tanya anak itu meyakinkan, yang dijawab ibu dengan anggukan kepala. Anak itu kemudian berlari ke arahku,dia bersandar pada dipan tempat aku berbaring tepat di sebelah kanan ayah. “Hai kak Devia, aku Danal. Ibu slalu belcelita banyak tentang kakak. Aku bangga loh, punya kakak yang sehebat dan secantik kak Devia!” sapa anak itu yang katanya adalah adikkku dengan semangat.”Hai juga Danar, ehm…oh ya! Ibu cerita apa aja tentang kakak?” tanyaku balik padanya.”Wah, banyak banget deh kak! Kata ibu, kakak itu cantik, baik, pintel lagi! Kata ibu juga kakak itu juala olimpiade matematika dan dapat beasiswa di sekolah! Hoho, aku bangga deh jadi adek kak Devia!” Anak itu menatapku dengan senyum yang lebar dan mata yang berbianar-binar,seperti fans berat yang ketemu langsung dengan sang idolanya.
“Ya Allah, ya Rabbi, ternyata selama ini orang tuaku masih mengingatku,membanggakanku. Walau mereka tau aku sangat membenci mereka dan mereka ku anggap sebagai pembunuh kak Doni, tapi mereka tak pernah dendam ataupun marah padaku. Selama 3 tahun aku pergi ku kira mereka senang, ternyata aku salah besar! Selama 3 tahun mereka mencariku, hingga ayah menekukan kos-kosan ku semalam.” Dalam batinku, aku merenung. Betapa salah aku memandang mereka selama ini. Aku menundukkan kepalaku dengan rasa sesal menyesak didada. Tanpa terasa airmata ku mengalir deras hingga beranak sungai.
“Kak, kenapa menangis? Danal salah ngomong ya kak?” Oh tidak, Danar memergokiku sedang menangis. “Ah nggak kok, Danar nggak salah!” kuusap air mataku dan memaksa bibirku untuk tersenyum. Aku tak mau membuat malaikat kecil ini menyesal telah mengangumiku. “Sayang, kau tidak papa nak?” ayah yang ada disampingku terlihat khawatir. Aku hanya membalasnya dengan gelengan kepala. Kali ini aku tidak seagresif tadi, karena aku mulai sadar kalau aku ternyata salah. “Sayang, kepalamu sakit lagi?” Ibu yang dari tadi hanya berdiri mematung di belakang ayah, kini mendekatiku, memegang keningku dengan raut wajah yang mengisyaratkan kekhawatiran.
Ku pandang wajah ibuku lekat-lekat, wajahnya yang cantik semakin indah ketika tangannya yang lembut menyentuh keningku. Rasa rindu menyerebak keseluruh jantung dan paru-paru, tak bisa aku mengelak kalau aku memang merindukan kasih sayang orang tua. “Ibu…” ucapku lembut padanya.”Tidak apa-apa! Kau hanya sedikit demam.”Matanya menatapku penuh kasih. “Ibu….Ayah….Adek…” bergantian aku memandang mereka satu persatu.”Aku rindu kalian!” ucapanku kemudian yang mebuat mereka saling berpandangan. Untuk meyakinkan mereka, ku buka kedua tanganku dengan wajah memelas. Akhirnya mereka pun mengerti, dan kami berpelukan bersama. Haaahhh,,,hatiku lega rasanya dan kepalaku sudah tidak sakit lagi.
***
Subhanallah, Walhamdulillah, Walailahailallah, Allahhuakbar…..
Serempak bibir dan hatiku, mengucap tahlil dan tahmid atas ke-Esaan Allah. Tuhan yang begitu sempurna, sesempurna apapun yang diciptakannya. Dari atas loteng, tempat kak Doni dan aku dulu sering menghabiskan waktu bersama. Dapat ku lihat langit biru yang cerah mengawasi setiap awan putih yang saling berkejar-kejaran, menjadi atap yang paling indah di bumi. Melihat kebawah, hamparan sawah di seberang komplek perumahan kami bagai bentangan karpet hijau indah yang begitu luas. Burung-burung berterbangan berkelompok membentuk formasi unik. Pohon-pohon kelapa menjutai tinggi menggapai lagit seperti tiang peyangga antara tanah dan lagit. Wow, semua terlihat immazing!
Kemarin adalah peristiwa yang tak akan aku lupakan untuk selamanya. Peristiwa dimana aku telah tersadarkan dari kesalahan yang selama bertahun-tahun lamanya kutimpakan sebutan “Pembunuh” bagi orang tuaku. Aku baru tersadar, saat kehadiran Danar telah mengubah cara pandangku selama ini pada kedua orang tuaku. Dan sekarang, di sini di rumah orang tuaku kami kembali berkumpul sebagai keluarga.
“Kak, kak Devia sedang apa di sini?” Danar menarik-narik ujung bajuku, membuyarkan semua lamunanku. “Eh, fans kakak yang paling istimewa kenapa ikut kakak kemari?” tanyaku yang menoleh kearahnya. “Di siluh ibu buwat cali kakak. Kakak sedang apa duduk di atas sini?” gaya bicaranya yang cadel membuat aku ingin tertawa, tapi ku tahan. “Sini, duduk sama kakak” ku angkat dia dan ku dudukkan dipangkuanku. “Lihatlah kesana!” jari telunjukku menunjuk ke sebuah taman yang ada di halaman depan rumah orang tuaku yang luas. Banyak tanaman yang terdapat di taman itu seperti mawar, melati, anggrek, pohon anggur, tanaman-tanaman hias, dan terdapat sebuah kolam ikan lengkap dengan air mancur buatan. Namun mataku hanya tertuju pada sebuah pohon flamboyan. Pohonnya tinggi, besar, tak banyak daun yang tampak tapi bunganya tumbuh lebat dan indah. Pantas saja jika banyak kupu-kupu dan kumbang yang tertarik mendekatinya.
“Adek lihat pohon yang penuh dengan bunga itu?” ku arahkan dia pada apa yang ku lihat. Kurasakan dia hanya menjawab dengan anggukan kepala.
“Itu pohon flamboyan namanya, dan lihatlah sepasang kupu-kupu biru yang terbang mengelilingi bunga itu!” ku rasakan dia kembali menjawab dengan anggukan kepala.”iya kak, kupu-kupu itu walnanya indah sekali dan meleka selalu beldua.”Aku tersenyum membalas ucapannya.” Dek, kau tau? Kak Doni, kakak kak Devia, kakak adek juga, dan dia adalah kakak kita yang paling hebat. Waktu kakak seusia adek, dia pernah bercerita tentang sepasang kupu-kupu biru.” Aku diam, sesaat ku teringat oleh kak Doni, tak terasa air mataku ikut mengalir. “Kak, kenapa kakak menangis?” Danar memalingkan kepalanya ke arahku. Segera ku usap air mataku dan ku tersenyum padanya. “Adek mau dengar tidak ceritanya?” kataku mengalihkan perhatiannya. “Ya, tentu saja! Gimana kak celitanya?” Sahutnya antusias.”Pada sutu hari ada sepasang kupu-kupu biru yang menjadi ratu dari kupu-kupu lainnya. Mereka bernama Ayah kupu-kupu dan ibu kupu-kupu, dan pada saat itu sang ibu kupu-kupu sedang mengandung. Setiap hari, selalu mereka habiskan untuk mencari madu sambil berkeliling dari taman satu ke taman lain. Kemudian pada suatu hari, ibu kupu-kupu bertelur di selembar daun yang lebar ditemani oleh Ayah kupu-kupu. Setelah itu merekapun meninggalkan tulur-telur mereka menetas dengan sendirinya.”
“ Loh kak, kenapa ayah dan ibu kupu-kupu jahat sekali meninggalkan telur-telurnya?”Tiba-tiba Danar telah memotong ceritaku. Kemudian aku tersenyum “Mereka tidak jahat sayang, karena itulah yang seharusnya mereka lakukan. Sebab didalam cangkang telur sudah terdapat sari-sari makanan yang calon bayi kupu-kupu butuhkan sampai telur itu menetas. Ibu dan Ayah kupu-kupu itu percaya, pada suatu hari nanti anak-anaknya akan lahir menjadi ulat-ulat yang lucu dan menjadi kupu-kupu yang indah seperti mereka jika waktunya telah tiba! Dan…………….”
Rupanya aku begitu asyik bercerita sehingga tak sadar Danar telah tertidur di pangkuanku saat aku meliriknya. Lembutnya hembusan angin dan cerita karangan kak Doni yang ku critakan kembali padanya ternyata telah mengantarkan adekku satu-satunya ini ke alam mimpi.
“Kak Doni!” Di balik pohon flamboyant, kuliahat bayangan seorang laki-laki yang wajahnya mirip kak Doni. Tapi yang aneh dia memakai pakaian serba putih dan wajahnya pun terlihat pucat. Ia terlihat tersenyum, senyum yang sama saat aku berpamitan padanya untuk ikut olimpiade matematika tiga tahun yang lalu. Kubalas senyuman itu dan dengan sekejap bayangan itu pun hilang.
. “Kak Doni, sekarang Devia sudah tahu siapa sepasang kupu-kupu biru yang kak Doni dulu ceritakan. Mereka adalah orang tua kita kan Kak?” Kutatap tempat bayangan tadi muncul,walau ku tahu bayangan tadi kini sudah lenyap.”Ayah dan Ibu meninggalkan kita bukan mereka tidak sayang, tapi mereka bekerja keras semata-mata untuk menghidupi kita. Walau mereka akhirnya sadar, tak hanya materi saja yang dibutuhkan anak-anaknya tapi kasih sayang dan cinta jauh lebih berharga dari apapun di dunia ini”. “Wuuusss….” Agin bertiup lebih kencang kali ini, hingga membuat jilbab yang menutupi rambutku terkibas. Ku peluk Danar yang saat ini tengah tidur dipangkuanku.
by Ladycute ![]()
ukhuwah (by my friends in FB)
Apa sih ukhuwah islamiyah itu? Menurut Imam Hasan al Banna, Ukhuwah Islamiyah adalah keterikatan hati dan jiwa satu sama lain dengan ikatan akidah. Namun kalimat “Ukhuwah Islamiyah” belakangan ini acapkali diposisiskan tidak sesuai dengan makna aslinya, bahkan dipolitisir oleh harokah/jamaah tertentu untuk mempertahankan eksistensi para anggotanya. LANTAS APAKAH YANG MENDASARI PERSAUDARAN ISLAM? APA DENGAN DASAR “KTP” MAKA DAPAT DIKATAKAN PERSAUDARAAN ISLAM? Pada kenyataannya mereka yang ber-KTP Islam tega untuk saling merampok, membunuh, memperkosa, dan melakukan tindakan kejahatan lainnya kepada sesama KTP Islam. Maukah kalian mengakui orang yang tega membunuh anggota keluarga kalian sebagai saudara? Maukah kalian mengakui orang yang tega mencuri harta rakyat sebagai saudara kalian? Atau maukah kalian mengakui pelaku sodomi sebagai saudara kalian? Tidak mau mengakui? Yang benar? Meskipun mereka sholat, puasa, zakat, dan menunaikan haji? Apakah kalian masih tidak mau mengakui?
Maka marilah kita sama-sama pelajari hakekat ukhuwah islamiyah secara syar`i agar Allah memberikan kita hidayah furqon (pemisah, pembeda antara yang haq dan yang bathil) ke dalam diri kita semua.
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah secara berjama’ah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (QS. Ali Imran: 103)
Asbabun Nuzul ayat:
Pada zaman jahiliyah sebelum Islam ada dua suku yaitu; Suku Aus dan Khazraj yang selalu bermusuhan turun-temurun selama 120 tahun, permusuhan kedua suku tersebut berakhir setelah Nabi Muhammad SAW mendakwahkan Islam kepada mereka, pada akhirnya Suku Aus; yakni kaum Anshar dan Suku Khazraj hidup berdampingan, secara damai dan penuh keakraban, suatu ketika Syas Ibn Qais seorang Yahudi melihat Suku Aus dengan Suku Khazraj duduk bersama dengan santai dan penuh keakraban, padahal sebelumnya mereka bermusuhan, Qais tidak suka melihat keakraban dan kedamaian mereka, lalu dia menyuruh seorang pemuda Yahudi duduk bersama Suku Aus dan Khazraj untuk menyinggung perang “Bu’ast” yang pernah terjadi antara Aus dengan Khazraj lalu masing-masing suku terpancing dan mengagungkan sukunya masing-masing, saling caci maki dan mengangkat senjata, dan untung Rasulullah Saw yang mendengar perestiwa tersebut segera datang dan menasehati mereka: Apakah kalian termakan fitnah jahiliyah itu, bukankah Allah telah mengangkat derajat kamu semua dengan agama Islam, dan menghilangkan dari kalian semua yang berkaitan dengan jahiliyah?. Setelah mendengar nasehat Rasul, mereka sadar, menangis dan saling berpalukan. Sungguh peristiwa itu adalah seburuk-buruk sekaligus sebaik-baik peristiwa. (Shiroh Nabawiyah)
A. Ayat sebelumnya (QS. 3: 100-102):
yaa ayyuhaalladziina aamanuu in tuthii’uu fariiqan minalladziina uutuulkitaaba yarudduukum ba’da iimaanikum kaafiriin
wakayfa takfuruuna wa-antum tutlaa ‘alaykum aayaatullaahi wafiikum rasuuluhu waman ya’tashim billaahi faqad hudiya ilaa shiraathin mustaqiim
yaa ayyuhaalladziina aamanuu ittaquullaaha haqqa tuqaatihi walaa tamuutunna illaa wa-antum muslimuun
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman.
Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan berserah diri (muslim).
1. Orang yahudi sejak zaman rasul tidak suka jika Islam bersatu, mereka akan selalu mencari cara untuk mencerai-beraikan islam, bahkan ingin orang-orang islam menjadi kafir (murtad) dengan kejahiliyahan.
2. Ayat di atas ditujukan kepada orang-orang beriman, bukan “Hai orang-orang islam.” Karena ada kecenderungan orang yang tadinya beriman menjadi kafir (murtad) sesudah beriman. “Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu.” Rasul secara bahasa adalah penyampai risalah, lalu apakah risalah Al-Islam akan berhenti ketika Rasulullah wafat?
“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)?” (QS. 3: 144)
“… Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. 16: 43)
“.. Kemudian bila kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalilah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.” (QS. 4: 59)
“… Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (QS. 16: 44)
3. Allah menyuruh orang-orang beriman untuk bertakwa dengan sebenar-benar takwa. “Ittaqullah haqqa tuqatihi” ialah hendaknya Dia ditaati tidak dimaksiati, disyukuri tidak diingkari dan diingat tidak dilupakan.” (HR. Al Hakim)
4. Allah mewanti-wanti orang-orang beriman AGAR JANGAN SAMPAI MATI JAHILIYAH, yaitu mati tidak dalam keadaan Islam atau mati tidak dalam keadaan berserah diri kepada Dinullah. Selama kita masih hidup, kita semua masih calon, calon muslim, calon kafir, calon munafik, calon musyrik. YANG MENENTUKAN MUSLIMNYA KITA ADALAH KETIKA KITA MATI, dan semuanya itu ditentukan oleh amal ibadah kita semasa kita hidup. Apakah semasa kita hidup kita beribadah kepada Allah atau beribadah kepada Thoghut?
“Barangsiapa yang Kafir (ingkar) kepada Thoghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat …” (QS. Al Baqoroh :256)
Menurut Sayyid Qutb, “Mati karena membela negara yang tidak ada urusan dengan iman dapat dikatakan mati bukan di Jalan Allah.”
“Tidaklah termasuk golongan kami barangsiapa yang menyeru kepada ashobiyyah (fanatisme kelompok). Dan tidaklah termasuk golongan kami barangsiapa yang berperang atas dasar ashabiyyah (fanatisme kelompok). Dan tidaklah termasuk golongan kami barangsiapa yang terbunuh atas nama ashobiyyah (fanatisme kelompok).” (HR. Abu Dawud)
“Barangsiapa berjuang di bawah bendera kefanatikan, bermusuhan karena kesukuan dan menyeru kepada kesukuan, serta tolong menolong atas dasar kesukuan maka bila dia terbunuh dan mati, matinya seperti jahiliyah.” (HR. Muslim)
Bagaimana orang yang mati karena fanatisme klub sepakbola? Fanatisme tokoh? Fanatisme partai? Dan fanatisme lainnya yang tidak ada hubungannya dengan iman kepada Allah, maka semuanya itu adalah thoghut yang dituhankan.
B. Ayat Sesudahnya (QS. 3: 104-105)
waltakun minkum ummatun yad’uuna ilaalkhayri waya/muruuna bilma’ruufi wayanhawna ‘anilmunkari waulaa-ika humulmuflihuun
walaa takuunuu kaalladziina tafarraquu wakhtalafuu min ba’di maa jaa-ahumulbayyinaatu waulaa-ika lahum ‘adzaabun ‘azhiim
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada Al Khair/Kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.
Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.
1. Ma`ruf: segala perbutan yang mendekatkan diri kepada Allah. Munkar: segala perbuatan yang menjauhkan diri kepada Allah. Al Khair pada ayat di atas ditujukan kepada Islam, sesuai dengan hadits yang cukup panjang yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Hudzaifah al-Yamani:
فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ
“Wahai Rasulullah, dahulu kami berada dalam keadaan jahiliyah dan kejelekan lalu Allah mendatangkan kebaikan ini (islam) …”
2. Allah melarang kita untuk untuk bercerai berai setelah datang keterangan Al Quran yang jelas dan nyata, bahkan menyerupainya saja dilarang! Berpartai-partai, bergolong-golongan yang menyelisihi al Quran dan as Sunnah maka termasuk memecah-belah Dinul Islam.
“Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang din apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah din dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik din yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada din itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (din)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).” (QS. Asy Syura: 13)
“… Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah din mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar-Ruum: 31-32)
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa: 48)
C. Pejelasan Ali Imran 103
واَعْتصِمُواْ بِحَبْلِ الله
Wai’tashimuu bihablillaah
“Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali Allah”
Yang dimaksud “tali Allah” adalah Al-Quran sesuai dengan hadits Harits Al A`war dari Ali yang diriwayatkan secara marfu’ tentang sifat Al-Quran disebutkan bahwa, “Al-Quran itu adalah tali Allah yang kokoh dan jalan-Nya yang lurus.”
Juga dalam hadits Abdullah yang di riwatkan oleh Ibnu mardawaih, bahwasannya Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya Al-Quran adalah tali Allah yang kokoh, cahaya yang menerangi, penawar yang memberi manfaat, sebagai penjaga bagi orang yang berpegang teguh dengannya dan penyelamat bagi yang mengikutinya.”
Abu Ja’far Ath-Thobari meriwayatkan hadits ‘Athiyyah bin Abi Sa’id, bahwasannya Rasulullah Saw bersabda, “Kitab Allah itu adalah tali Allah yang di ulurkan dari langit ke bumi.” (Tafsir Ibnu Katsir I/388-389)
Namun ada sebagian ulama ada yang mengatakan bahwa “tali Allah” itu adalah Dinullah.
جَمِيْعًا وَلاَ تَفَـرَّقوُا
Jamii’an, walaa tafarraquu
“Secara berjama’ah, dan janganlah berpecah belah/bercerai-berai”
Lafadz Jami’an جَمِيْعًا adalah sebagai “Haal” yang menjelaskan tentang cara berpegang teguh kepada tali Allah, yaitu dengan cara bersatu padu (berjama’ah). (Tafsir Abi Su’ud Juz I/66)
“Tetaplah kamu pada Jama’ah Muslimin dan Imam mereka.” (Muttafaq alaih dari Hudzaifah bin Yaman)
Adanya Qorinah lafdziyah, yaitu “wala tafarroqu” yang jatuh setelah kalimat “Jami’an”, Ibnu Katsir berkata bahwa yang dimaksud adalah Allah memerintahkan kepada mereka dengan berjamaah dan melarang mereka berfirqoh-firqoh (berpecah belah). (Tafsir Ibnu Katsir juz I/189)
“Orang-orang Yahudi telah berpecah belah menjadi 71 golongan atau 72 golongan dan orang-orang Nasrani demikian juga, sedang umatku berpecah belah menjadi 73 golongan semuanya masuk neraka kecuali satu, yaitu Al-Jama’ah.” (HR. At Tirmidzi dari Abu Hurairah)
Hal ini juga diperkuat oleh perkataan Umar bin Khattab: “Wahai masyarakat Arab, tidak ada islam kecuali dengan jama’ah, tidak ada jama’ah kecuali dengan kepemimpinan, dan tidak ada kepemimpinan kecuali dengan ketaatan.” (HR. Bukhari)
“Siapa yang mengangkat tangannya dari ketaatan, maka dia akan bertemu dengan Allah pada hari kiamat dengan tanpa alasan padanya. dan siapa yang mati, sedang tidak ada di pundaknya bai’at maka matinya seperti mati jahiliyyah.” (HR. Muslim)
“Aku nasehatkan kepada kalian bertaqwa kepada Allah,mendengar,dan taat walaupun kepada seorang budak habasyi, karena siapa yang hidup sesudahku maka dia akan melihat perpecahan yang sangat banyak, maka atas kalian sunnahku dan sunnah para khalifah yang di atas hidayah dan petunjuk, berpegang teguhlah kalian dengannya, gigitlah dengan gigi geraham.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Majah)
Wahai Rasulullah, dahulu kami berada dalam keadaan jahiliyah dan kejelekan lalu Allah mendatangkan kebaikan ini, apakah setelah kebaikan ini akan datang kejelekan ?” Beliau berkata : “Ya”, Aku bertanya : “Dan apakah setelah kejelekan ini akan datang kebaikan?” Beliau menjawab : “Ya, tetapi di dalamnya ada dukhan (kesamaran).” Aku bertanya : “Apa kesamaran itu ?” Beliau menjawab : “Suatu kaum yang membuat ajaran bukan dari ajaranku, dan menunjukkan (manusia) kepada selain petunjukku. Engkau akan mengenal mereka dan engkau akan memungkirinya.” Aku bertanya : “Apakah setelah kebaikan ini akan datang kejelekan lagi ?” Beliau menjawab : “Ya, (akan muncul) para dai-dai yang menyeru ke neraka jahannam. Barangsiapa yang menerima seruan mereka, maka merekapun akan menjerumuskan ke dalam neraka.” Aku berkata : “Ya Rasulullah, terangkanlah ciri-ciri mereka kepada kami?” Beliau menjawab : “Mereka dari golongan kita, dan berbicara dengan bahasa kita.” Aku bertanya : “Apa yang anda perintahkan kepadaku jika aku temui keadaan seperti ini?” Beliau menjawab : “Pegang erat-erat jama’ah kaum muslimin dan imam mereka.” Aku bertanya : “Bagaimana jika tidak ada imam dan jama’ah kaum muslimin?” Beliau menjawab : “Tinggalkan semua kelompok-kelompok sempalan itu, walaupun kau menggigit akar pohon hingga ajal mendatangimu!” (HR. Bukhari dan Muslim)
وَاذْ كـُرُوانِعْمَتَ الله عَلَيْكُمْ
Waudzkuruu ni’matallaahi ‘alaykum
“Dan ingatlah akan nikmat Allah atasmu”
Ukhuwah Islamiyah hakikatnya adalah nikmat Allah kepada umat muslim. Namun yang jadi pertanyaan dan permasalahan saat ini adalah, “Sudahkah nikmat itu diberikan kepada Allah?” Banyak para ustadz berkata, bahwa kita harus mensyukuri nikmat islam yang Allah berikan kepada kita. Nikmat islam yang mana? Islamnya saja belum tegak! Nikmat setengah islam setengah kafir? Nikmat islam atau nikmat demokrasi?
فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَاناً وَكُنْتُمْ عَلىَ شَفاَ خُـفْرَةٍ مِنَ النَّاِر فَأَنْقـَدَكُمْ مِنْهَا
fa-ashbahtum bini’matihi ikhwaanan wakuntum ‘alaa syafaa hufratin mina alnnaari fa-anqadzakum minhaa
“Ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya”
Surat QS. 3: 103 adalah surat Madaniyah, surat yang turun ketika periode Madinah, yang mana umat muslim telah bersatu di bawah panji Islam yang dipimpin oleh Nabi Muhammad Saw. Bukan surat Makiyah, yang mana umat muslim belum memiliki Daulah (Negara) Islamiyah -apalagi Khilafah Islamiyah- yang masih berada di Daulah Kufar yang dipimpin oleh Abu Lahab dan Abu Jahal dengan ideologi Latta-Uzzanya. Sekarang kita dalam periode Madinah atau periode Mekah? AYAT INI BELUM BISA DINISBATKAN KEPADA UMAT MUSLIM INDONESIA SELAMA DAULAH ISLAM BELUM DIMILIKI UMAT MUSLIM INDONESIA! Jadi jangan mimpi umat islam akan bersatu kalau perjuangannya ke arah Furu’uddin (cabang-cabang agama), syariah, khilafah, dan sebagainya. Termasuk memperjuangkan ukhuwah islamiyah tanpa bertujuan untuk menegakkan daulah islam, bagaikan menebar benih di angan-angan.
Maka seperti yang Allah firmankan, bahwa kondisi umat islam saat ini SEDANG BERADA DI TEPI JURANG NERAKA. Buktinya sekarang mengaku islam tapi bermusuh-musuhan, bahkan bunuh-bunuhan? Rasulullah Saw bersabda, “Ikatan-ikatan islam akan lepas satu demi satu. Apabila lepas satu ikatan, akan diikuti oleh lepasnya ikatan berikutnya. Ikatan islam yang pertama kali lepas adalah pemerintahan dan yang terakhir adalah shalat.” (HR. Ahmad)
“Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara.” Kaum Muhajirin dan Kaum Anshor awalnya mereka tidak saling mengenal, tidak memiliki hubungan keluarga, berbeda suku, berbeda adat istiadat. Tapi mengapa hati mereka bisa bersatu? Mengapa Allah menjadikan mereka bersaudara? Karena mereka tunduk di bawah konstitusi Allah dan Rasul-Nya, bukan di bawah konstitusi kafir Quraisy, ataupun di bawah konstitusi Romawi dan Persia yang saat itu menguasai sebagian besar jazirah Arab. Apakah demokrasi saat itu belum ada? Sudah! Untuk perbandingan, demokrasi lahir di Yunani tahun 429 SEBELUM MASEHI, bandingkan dengan Nabi Muhammad yang lahir pada tahun 570/571 MASEHI, selisih hampir 10 ABAD!
Jika ada yang mengatakan demokrasi sebagai siasat dakwah, maka itu adalah kebohongan yang amat besar, sesat dan menyesatkan, karena tidak ada hujah syar`i yang mendukung.
“Dan sesungguhnya Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengarkan ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan, maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicara yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam jahannam.” (QS. An Nisa: 140)
“Katakanlah: Tunjukanlah bukti kebenaranmu, jika kamu memang orang-orang yang benar.” (QS. An Nahl: 64)
كَذَالِكَ يُبَبِّنُ اللهُ لَكُمْ اَيَاتِهِ لَعَلـَّكُمْ تَهْـتَدُونَ
Kadzaalika yubayyinallaahu lakum aayaatihi la’allakum tahtaduun
“Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”
D. KESIMPULAN
Ukhuwah Islamiyah haruslah diaplikasikan ke dalam bentuk jamaah yang berkomitmen menegakkan Dinul Islam dengan jalan jihad fi sabilillah. Hal ini diperlukan sebagai bentuk pendeteksian kadar iman seseorang. Di dalam ushul fiqih, “Jika suatu kewajiban tidak sempurna kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itu wajib juga hukumnya dan segala perantaraan kepada yang haram maka hukumnya haram.”
“Orang muslim adalah saudara muslim lainnya.” (Muttafaq ‘Alaih)
“Orang-orang beriman ibarat satu tubuh, jika bagian kepala mengaduh, seluruh badan akan menderita tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Muslim dari Nu’man bin Basyir)
“Orang muslim adalah saudara muslim lainnya, tidak (boleh) ia dzalimi atau ia serahkan kepada musuh, barangsiapa memenuhi hajat saudaranya Allah akan penuhi hajatnya, barangsiapa membantu memberikan jalan keluar dari kesulitan yang dihadapi seorang muslim, Allah akan berikan jalan keluar baginya ketika menghadapi kesulitan pada hari kiamat, dan barangsiapa menutupi aib seorang muslim, Allah akan tutupi aibnya pada hari kiamat.” (HR. Bukhori dari Ibnu ‘Umar)
“Aku perintahkan kepada kamu sekalian lima perkara; sebagaimana Allah telah memerintahkanku dengan lima perkara itu; berjama’ah, mendengar, ta’at, hijrah dan jihad fi sabilillah. Barangsiapa yang keluar dari Al-Jama’ah sekedar sejengkal, maka sungguh terlepas ikatan Islam dari lehernya sampai ia kembali bertaubat.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
“Sesungguhnya serigala akan memakan kambing yang sendirian.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan an-Nasa’i)
“Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia: dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bartaqwa.” (QS. Al An’am: 153)
“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tidak mempunyai seorang penolong selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (QS. Hud: 112-113)
“Tetapi orang-orang yang zalim mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan.” QS. (Ar Rum: 29)
Dan siapa yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah.” (QS. Al Qashash: 50)
“Mereka jika melihat tiap-tiap ayat (ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa yang membawa petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mareka terus menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat kami dan mereka selalu lalai daripadanya.” (QS. Al A’raf: 146)
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al Hujurat: 15)
Gratitude (ucpn terimakasih)
Assalamualaikum warohmatulohi wabarokatu….
“Woy Penonton Pembaca??”
“Woooyyyy…..”
Marilah pertama-tama kita ucapkan syukur atas kehadirat Allah yang Maha Kuasa. Karena dengan rahmat dan karunianya, kita semua dapat lahir dan hidup di dunia ini.
Yang kedua, taklupa pula saya ucapkan syukur. Atas Bapak dan Ibu saya yang menikah dengan Syah di KUA. Serta degan sengaja atau tidak sengaja melakukan “… XXX…” (maaf disensor karena mengandung SARA) pada malam yang bukan pertama, karena saya bukan anak pertama. Sehingga lahirlah saya ke dunia ini dengan selat tanpa kekurangan suatu apapun.
Terimakasih sedalam-dalamnya (emang sumur) pada Bapak dan Ibu yang telah bersedia, rela dan ikhlas InsyaAllah. Memelihara,menghidupi,mengasuh dan menyekolahkan sy yang sekarang sudah tumbuh menjadi anak sholeha. Amin…
Terimaksih pula pada tubuh ini yang senantiasa bekerja tiada henti bekerja keras untuk kebaikan saya sendiri. Dan disini saya juga meminta maaf, apabila saya sering memperkosa memaksa untuk bekerja lehih keras. Tak pernah mem beri libur pada kalian. Diantaranya adalah :
- Ibu kepala beserta penasehatnya (Bos Otak,mbk rambut, mas 2 bolamata kembar, pak de hidung, tante bibir, dkk)
- Bapak Tubuh beserta perusahaannya (PT Jantung Pompa, PT Paru-paru, CV Usus, Koperasi Hati, CV Ginjal Kembar, dll)
- Dua pasang kekasih yang takkan tergantikan (Mas Tangan kanan dan mbk tgn kiri serta Pakde Kaki Kanan dan Bude kaki kiri)
Tak lupa pula dengan para sahabat sahabatku yang mencintai dan menyangiku apa adanya. Selalu ada jika aku susah, selalu gembira jika aku bahagia. Diantaranay adalah : Lia (tetaplah jadi sahabat yang baik dan setia), Ika (jangan sia-siakan kesempatan kuliyah mu), Etik (walau kau sempat bohong akan hub. dgn Sidiq tp aku Rindu pada Mu), Mama (Wes, saiki dadi guru wes penak rasah pindah2 meneh), Erna,Mimis & Sinta (ati-ati di jakarta ya. jgn salah bergaul), Asri (kau menghilang tanpa jejak) , Yashinta (yg tabah ya!!)
Buat orang-orang (khusus laki2) yang pernah mengisi hatiku baik itu senang maupun sedih (banyak sedihnya sih!!) dan Firs love yang membingungkan. Jika suatu saat kita bertemu, semoga kita adalah teman. Tapi, aku juga tak bisa lari dari “Takdir Allah”. Jika Suatu saat Kita dipertemukan kembali oleh Allah bukan sebagai teman, melaikan sahabat sejati seumur hidup. Semoga salah satu dari kalian yg buntung beruntung itu adl laki2 sholeh, menerima aku apa adanya, berpenghasialan tetap, dapat menjadi imam dunia dan akherat aku dan anak2 mu. Amin….
Untuk memulai acara ini marilah bersama- sama kita mengucapkan Basmalah bersama-sama “Bismillah hirrohmanirrohim……..”
Terimakasih.
Acara selanjutnya adalah Isi. “Maaf Bu MC, Isi belum hadir” kata seorang audience
Baik kalau begitu, Untuk mengahiri acara ini mari bersama-sama kita mengucap Hamdalah. “Alhammdulillahirobil alamin….”
(Namun terdengar suara yang berteriak-teriak dari belakang)
Isi : ” Hei…..hei…. tunggu!!” ucapnya sambil berlari tergopoh-gopoh
MC: “Isi, kenapa kau terlambat??”
Isi: “Maaf bu, tapi sebenarnya saya tidak terlambat”
MC: “Maksudmu??”
Isi : “Sebenarnya saya tadi sudah datang ke sini pagi-pagi sekali. Karena belum ada yang datang jadi saya pulang lagi!”
MC: “Gedubraakk!!”
Apa q hrs menikah??
Huuh….
Sungguh aku sangat bosan dengan masalah ini. Seakan tak ada habisnya!! Apa lagi aku gak tahu apa solusi yg tepat agar rumor ini selesai. Bahkan kalau bisa hilang tiada sisa.(Eduu Serem >_<)
Berawal dari teman berubah menjadi perselisihan. Karena salah paham menjadi dendam. Penyebab lenga menjadi petaka.
Aku, tepat 5bulan yang lalu dipindah tugas ke kantor cabang dekat terminal kota. Pertama aku agak canggung, karena harus beradaptasi dgn pegawi lain yg semua adl laki2. Untung saja aku berjilbab. Sebab paling tidak, jilbab ini memberi perlindungan serta memberi rasa aman buat si pemakai yaitu aku.
Sebenarnya ada bnyak laki2 yang bekerja di sana. Akan tetapi karena suatu hal, beberapa dari mereka keluar. Hingga akhirnya tinggal 2 org yg bekerja disana. Mungkin karena kekurangan pegawai dan banyaknya pekerjaan, maka aku di pindah kesini.
Memang tempat kerja ku yang baru(cabang tempat yg lama) ini agak jauh dari tempat yang lama. Tapi aku bersyukur, asal masih bekerja aja. betul betul betul…
Masing2 diantara dua laki2 ini sudah memiliki pasangan. Bahkan ada yang sudah 1th menikah. Sebut sja IC with KN (sudah menikah) dan VA with TR (baru pacaran). Sedangkan aku sendiri??
Saat ini dan sampai nanti InsyaAllah aku memilih cara Halal. Cara menempatkan cinta pada seorang kekasih dengan cara yng Syar’i. Yaitu dengan Ta’aruf.
Sehingga saat ini aku masih lajang (bukan janda loh
) karena tak ada dalam kamus Islam pacaran itu di perbolehkan. Karena Allah telah berfirman, bahwa apapun yang mendekati zina itu adalah dosa. Sedang Pacaran termasuk didalamnya. Begitu setahuku.
Back to the topic. Karena sebab itulah, kedekatan ku dengan dua cow ini sering di ambil pusing sama pasangannya. Walaupun sebenarnya aku tak punya rasa apa2 selain “TEMAN KERJA”.
Aku sempat heran, begitu besarnyakah cinta mereka hingga teman kerja yang masih jomblo(istilah gaul dari melajang) aja di cemburui?? Walau hannya sekedar nebeng atau pun tanya kabar??
“Masha’ Allah, Astafirullah, Huwalla hu Akbar. Ya Allah lindungilah Hamba dari ancaman FITNAH yang KEJAM!!”
Mungkin hanya itu yang bisa aku ucapkan untuk diriku sendiri. Tepatnya mungkin bukan “FITNAH” tapi sekedar “SALAH PAHAM” semata. Karena cinta yang begitu besar akan pasangannya.
Benar apa kata pepatah, Jikalau kita telah terkena virus Cinta maka Tahi kucingpun rasa Coklat(Huueek!!
). Bahwa intinya, karena besar cintanya seseorang pada pasangannya hingga tak peduli lagi akan logika. Hingga Tahi kucing yang adalah kotoran menjijikkan dan berbau busuk tentunya, bisa terasa coklat oleh orang yang merasakan cinta. Akupun bingung, harus mengucapkan “Subkhanallah” atau “Naudhubillahi min zalik” ya??
“Apa aku harus menikah??”
Kata inilah yang terngiang2 dalam diriku. Untuk menghindari dan MELEPAKAN pengaruh sebutan “orang ke tiga” ,apakah aku harus menikah?? Jika iya, lalu dengan siapa?? (Kucing tetangga cow tuh, jomblo pula!! mau gak?? Idih NgaWur)
Namun, aku ingin menunaikan cita2 ku sebelum akubenar2 Memutuskan untuk MENIKAH. Yaitu ; Menjadi anak sholeh + berbakti pada org tua ku yang sudah senja(msh dalam Proses), menjadi Muslimah yg Sesungguhnya(msh dalam Proses juga), Menjadi Penulis yang InsyaAllah Maknyus,hehe.. (msh dlm Proses lagi). Loh, kalau masih proses semua Output-nya kpn?? Nah, itu dia baru di… Proses! hehe
Huuuh… Ya sudahlah! Baik ada masalah, ada gosip, ada rumor, ada ujan gledek, ada stunami. Loh! Hidup harus terus berjalan kan??
Untuk diriku sendiri dan siapa saja yang membaca, baik sengaja ataupun nyasar. hehe.. Usahakan, sekeras-kerasnya (emang batu) jgn sampai suatu masalah membuat kita kalap dan nekat. Seperti contohnya “Bunuh Diri”. hiii Serem >_<
Walau aku pernah Ke-Pikiran soal hal itu “Bunuh Diri” tapi segeralah mengucap ta’awud dan istifar (Audubilla himinas saithonirrojim dan Astafirullah) Karena sesungguhnya datangnya pemikiran *jelek ini datangnya dari setan.
Di akhir kata ku, aku hanya bisa menutup dengan doa. Berharap datangnya kebaikan dan hidup yang barokah. Amin
“Ya Allah ya Tuhan Kami, Tuhan yang Maha dari segala Maha. Hamba tau Engkau selalu beri kami yang terbaik. Berikan solusi di setiap cobaan. Berikanlah petuahMu di setiap hambatan hidup. Berikanlah Manfaat dari setiap ujian. Sehingga dalam menjalani ladang akherat ini, kami menjadi orang-orang yang tidak merugi. Jika kami khilaf tolonglah, sadarkankan kami dengan caramu. Jika Kami terjatuh, raihlah kami dengan risalahMu. Jika kami tersesat luruskan jalan kami ya Allah. Ashaduala Ila Hailallah Wa As’hadunna Muhammadhan Rosulullah. Amin”
Hugs and kisses from me
Ladycute

